My Photo

February 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29  

« June 2005 | Main | October 2005 »

Sebuah Dialog Sinis Antara Entah-Siapa dengan Seratus Egoku

1. Apa yang lo makan sekarang - sebenarnya dipaksa untuk memakannya, Critical Discourse Analise dengan teori Louis Althusser... tentang para aparathuse sialan

2. apa yang lo minum sekarang - tangisan seorang bayi yang kutemui terlantar dibawah pohon beringin di negara sialan ini

3. apa yang lo liat sekarang - otak-otak berisi busa dan kecambah serta kondom berkepala Lucifer

4. apa yang lo rasain sekarang - sekarat dan nyaris orgasme, dua hal yang selalu kurindukan, cukup segar dengan tambahan dua bungkus wanita tanpa identitas

5. apa yang jadi beban lo sekarang - beban orang-orang (i've an acute empathic syndrome)

6. apa yang lo denger sekarang - dialog asap dengan sehelai daun mati tentang bagaimana membuat steak sapi yang baik untuk kulit, f them!

7. apa yang jadi dosa lo sekarang - i don't believe in sin, i believe in God without her/his rule about sin. manusia adalah mesin gairah, sejak awal. tuhanlah yang menciptakan itu.

8. apa yang jadi kebiasaan buruk lo sekarang - berusaha menjadi baik, damned! gw enek dengan segala nasihat yang loe kasih, ke gurun pasir aja loe, dipatuk ular berbisa...

9. Apa yang lo rasa ga enak sekarang - rasa kopi di kafe tadi yang mirip kencing kuda

10. apa yang baru dari inbox hp lo sekarang - ribuan pernyataan cinta dari semua nomor berjenis kelamin wanita, sengak!

11. apa yang lo mau banget sekarang - mati saat orgasme di rahim Agnes Monica dan menyusun diri dalam schizophrenia

12. apa yang lo kangenin sekarang - konser Rasul Muhammad di atas Ka'bah

13. apa yang membuat lo marah sekarang - kehilangan sejuta duka yang udah gue susun sejak bayi

14. apa yang ga bisa lo hentikan sekarang - masturbasi di atas tubuh Dia

15. apa yang ingin lo temukan sekarang - Agama Baru yang relevan dan representative

16. apa yang lo bawa di tas sekarang - setengah sisa hidup gue yang nyaris dicuri mimpi- mimpi buruk

17. apa yang lo pake sekarang - sejuta kelalaian yang seharusnya gue buang jauh- jauh semenjak konser diatas asap dupa 800 ribu tahun yang lalu

18. apa yang jadi harapan lo sekarang - menanam biji Tuhan di kepalaku, susah banget nyari bijinya...

19. apa yang pengen banget lo beli sekarang - The Flybook dan Mariyuana

20. apa yang pengen lo cuekin dari bisikan setan sekarang? - setan gak pernah bisik-bisik ama gw, mereka berteriak: "Jangan Tinggalin Agama Loe!"

21. apa yang pengen lo bilang dari doa lo sekarang - Tuhan, gw butuh mesin cetak...!

22. apa yang ingin lo hilangkan sekarang - perasaan bersalah atas kematian Guttenberg dan Barthez

23. apa yang pengen lo tulis dalam satu kata sekarang - FAITH

24. apa yang lo cintai sekarang - sebuah harum yang khas dari sebuah lubang kecil bertindik yang pernah membunuh indera penciumanku, damn it, it's so tight at the first!

25. apa yang bikin lo semangat sekarang - saat diskusi tentang Agama Baru yang akan segera kubuat

26. apa yang pengen lo bilang, ke orang yang lagi deket sama lo sekarang - aku tak suka cantikmu yang mengerikan itu, tapi aku suka puluhan gurat singkayo yang tercetak di garis karet celana dalammu...

27. apa yang pengen lo bilang sekarang - God Damned, forget it!

28. apa yang lo percaya sekarang - CINTA YANG LOGIS

29. apa yang pengen lo ganti sekarang - Penis, diganti sebuah dildo yang bisa orgasme berjam-jam dan bisa mikir sendiri...

30. apa yang pengen lo tanya sekarang - kenapa loe berpikir gw orang yang aneh dan gila? padahal kegilaan adalah sebuah kenikmatan.

Sabda sinis, Hantu-hantu, Distorsi, dan Sekepal Rayuan Yang Membuai

Di sebuah panggung pertunjukan, minggu lalu, aku melihat ribuan sabda sinis dimubadzirkan begitu rupa, terbuang, berserakan bersama hantu-hantu diiringi ribuan distorsi dan wanita yang mengantarkan sekepal rayuan yang membuai.

Tapi dalam kenyataannya aku-lah yang mengantarkan sekepal rayuan padanya. Kuhentikan semua sabda sinis itu, fade out. Kubunuh hantu-hantu itu, fade to black. Tapi distorsinya kutambah menjadi h + 1, memperkuat frekuensinya, pekak. Lantas aku berdiri di atas panggung pertunjukan itu mengantarkan bahkan sejuta rayuan untuknya, hanya untuk dia, wanita itu. Wanita yang kukagumi sejuta kali lebih besar ketimbang Marie Antoinette. Ah…

Awalnya aku melihat dia tanpa busana, menyeringai, mengantarkan lelehan lendir panas yang keluar dari sudut langit-langit benaknya, lelehan lendir panas yang kemudian merasuki seluruh penciumanku. Semakin lama pakaiannya semakin utuh, memenuhi seluruh ruang galeri tempat kepribadiannya dipamerkan menjadi sebentuk pameran seni rupa kontemporer. Terus menumpuk, membesar seperti tiba-tiba akan meledak, dan merubuhkan gedung itu dengan tangisan ribuan bayi yang menyembur dari rahim di langit-langit benaknya.

Dalam setiap pembukaan pameran seni rupa di galeri-galeri yang sering kukunjungi, seringkali terjadi sebuah komunikasi imajiner antara aku dengan dia, wanita itu. Seperti saat ini, ada pesan personal yang ingin disampaikannya padaku, teramat intim bahkan. Meski suasana di gedung pertunjukan ini teramat sepi, tak ada satupun orang yang mendengar bisikan personal yang ingin disampaikannya padaku. Dia benar-benar berhati-hati agar hanya aku yang mendengarnya.

"Merayu adalah hipnotisme yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan menciptakan sebuah kesadaran yang penuh pula. Dan merayunya seperti menghipnotis seorang kaya lantas aku mengambil semua kekayaannya, bedanya dia ikhlas menyerahkan bibirnya untuk kuciumi dengan teori bernama "Lolly Pop" yang baru saja kubuat sebelum menciuminya."tanyaku dalam hati padanya.

"Kau sedang merayuku?"

"Tidak kau yang sedang merayuku, kau menghipnotisku hingga tubuhku seperti seolah mengantarkan sejatu rayuan padamu." Jawabnya sambil mengibaskan beberapa pakaian yang menyembur dari tubuhnya.

"Maaf, aku tidak sadar."

Kataku, masih dalam hati.

"Kau tahu, ada sebuah teori, aku menyebutnya teori lolly pop. Bunyinya begini:tanyaku.

‘Dua orang yang saling mencintai adalah seperti anak-anak kecil yang melihat anak-anak kecil lainnya memakan lolly pop, dan mereka ingin saling mencoba rasa lolly pop yang ada di tangan anak kecil lainnya. Sebab lolly pop orang lain akan tampak lebih nikmat ketimbang lolly pop nya sendiri.’"

"Kau yang menciptakan teori itu?"

"Tidak, aku mendengarnya dari seorang teman."Setelah itu dia disibukan oleh alur pertunjukannya yang mengharuskan dia membuka lembar terakhir dari pakaiannya. Suasana tiba-tiba semakin hening dan penuh dengan nafas tertahan. Keheningan yang mecurigakan. Semua penonton berharap dia benar-benar membuka seluruh pakaiannya. Kecuali aku sebab aku sudah melihat ketelanjangannya dari tadi, semenjak dia meneriakan kata-kata kujadikan judul fiksi ini.

Lucu…sebab bibirnya tampak lebih indah dalam benakku ketimbang bibir yang selama ini pernah kujilati di tubuh wanita-wanita lain. Aku ingin menjilatinya, dengan bibirku tentu.

Aku selalu gak habis pikir ketika dia bilang dirinya masih perawan. Bukankah sudah ribuan kali dirinya kuperawani melalui komunikasi imajiner yang selama ini kujalin dengannya. Pengertian perawan dalam kepalaku mungkin terlalu absurd untuknya.

Suatu ketika ketika dalam sebuah pembukaan pameran lukisan, wanita itu datang agak terlambat, memakai gaun terusan yang sudah entah keseberapakalinya dipertunjukan dalam panggung-panggung fashion show di kepalanya, begitu anggun dengan polesan makeup sederhana tetapi mahal yang cukup untuk membuat dirinya disebut sebagai suatu kecantikan yang alami, seperti baru dipetik langsung dari pohonnya, segar, ranum dan bergairah.

Seperti dulu, kecerdasan tubuh adalah bagian penting dari wanita ini.

Hal yang pertama kulihat darinya adalah bekas luka sepanjang 10 cm di betisnya, sexy, begitu kataku saat pertama kali bertemu dengannya. Setelah itu kita berkenalan. Dia asalnya enggan menyodorkan tangannya, ragu, hingga akhirnya dengan terpaksa dia menyodorkan tangannya juga padaku setelah 15 menit aku menunggunya. Puas? Katanya setelah itu. Aku hanya terdiam, memandang mata judesnya lekat-lekat. Rese’ banget sih loe! Katanya lagi. Cukup! Aku enyah dari hadapannya dengan perasaan benci. Padahal sebenarnya aku tidak mungkin dan tidak akan pernah membencinya.

Sial! Hari ini dan hari-hari selanjutnya dia tidak akan pernah datang lagi ke galeri ini selama dia yakin bahwa aku akan datang. Aku memang selalu datang dengan harapan bisa bertemu lagi dengannya. Wanita dengan bekas luka memanjang 10 cm di betis kanannya. Saat itu aku tidak tahu dan tidak sempat menanyakan padanya darimana dia mendapatkan luka itu. Sebuah bekas luka yang suatu saat akan sangat mengubah drastis hidupku dan tentu saja dirinya. Ya, kita dipersatukan oleh bekas luka itu.

Aku sendiri mempunyai bekas luka yang sama, memanjang kira2 6 cm di dadaku. Aku mendapatkannya saat...

(Bersambung...)