My Photo

February 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29  

« September 2005 | Main | December 2005 »

Para Pemuja Lupa Bag.I

Dia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang memuja lupa, menjadikan lupa adalah Tuhan mereka. Menyembahnya seperti layaknya kau shalat, ke gereja, ke vihara atau yang lainnya. Pernahkah kau mendengar sebuah kalimat dari seseorang Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah seperti ingatan melawan lupa Itu berarti manusia adalah ingatan dan lupa adalah kekuasaan. Mengerti kan apa yang kumaksud. Siapa satu-satunya hal yang mempunyai kekuasaan, bahkan mutlak? Tuhan. Maka lupa adalah Tuhan. Silogisma Aristoteles, Isnt it? Dan ingatan adalah manusia. Dengan alasan lain, bukankah manusia selalu mengingat? Dan satu- satunya saat manusia tidak mengingat adalah saat manusia merasakan moment-moment ketuhanan, seperti misalnya ekstasi, orgasme dan banyak lagi. Ini berarti perumpamaan ini mendukung teori diatas bahwa lupa adalah Tuhan. Dan keseluruhan teori inilah yang menyebabkan mereka memuja lupa. Ritual yang paling disukainya dari agama Lupa ini adalah, mereka menyebutnya, mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia. Ini berarti ingatan benar-benar dihilangkan. Dan kita semua tahu bagaimana orang-orang menyebut hal ini sebagai Lupa Ingatan dengan kata lain GILA. Ada beberapa tahap untuk mencapai level tertinggi dari mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia ini: -Tahap pertama; Migrain. Ini adalah saat kepalamu terbelah. Ini adalah saat kau bisa memisahkan diri dari ingatan. Kau di satu belahan kepala dan ingatan di belahan kepala yang lain. Ini adalah saat dimana kau bisa melihat ingatan dari luar ingatan itu sendiri. Saat inilah dimana kau bisa mengenali ingatanmu dari sudut pandang luar dan mempelajarinya, mengerti kelemahannya untuk kemudian -Tahap kedua; menyerang ingatan. Menyerang dengan keseluruhan energi dan pengetahuanmu mengenai kelemahannya. Lalu -Tahap ketiga; kalahkan. Ambil semua yang ada disana. Item-itemnya, file-filenya dan sebagainya. Setelah itu -Tahap keempat; hapus dan penjarakan. Hapus semua file yang bisa dihapus dan penjarakan di relung terdalam kepalamu semua file- file Read-Only. -Tahap kelima; kuasai tubuhmu dengan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai personality disorder ini. Saat inilah sesuatu yang bernama Intuisi muncul. Dan intuisi ini yang kemudian memandu seluruh hidupmu, gerakmu serta keinginanmu. Intuisi inilah yang disebut sebagai level tertinggi dari mekanisme penyusunan diri dalam skizoprenia.

Hopeless but maybe you can help me...

Sakit itu membuatku gila…

Sakit yang belum pernah kurasakan ini membuatku menyesal tidak menyusunnya terlebih dahulu dari semenjak awal.

Sakit yang disebabkan oleh kebingungan. Aku bahkan tidak tahu sakit ini muncul karena terlalu mencintainya, atau karena egoku merasa dikalahkan, atau karena terlalu khawatir dengan apa yang akan mungkin terjadinya padanya setelah aku benar-benar pergi dari hidupnya.

Aku kesepian, aku merasa ditinggalkan oleh semua orang. Semua orang yang kucintai dan semua orang yang pernah mencintaiku. Dari awal aku selalu bilang bahwa aku lebih senang mencintai daripada dicintai. Ternyata selama ini aku berbohong pada diriku sendiri. Aku juga butuh dicintai. Atau mungkin egoku butuh keseimbangan.

Aku selalu bilang pada orang-orang bahwa rasa cinta yang muncul setelah kau dikecewakan atau ditinggalkan bukanlah rasa cinta yang sebenarnya, itu hanyalah ego karena kau merasa dikalahkan. Memang mudah ketika bicara, ketika itu terjadi pada orang lain, tapi ternyata sangat sulit jika itu menimpa diriku sendiri. Aku bahkan tidak tidak tahu lagi apa yang kuinginkan, apa yang harus kuperbuat berikutnya.

Sekarang semua hal yang kulihat, kudengar, kurasakan, jadi terasa menyakitkan. Semua makanan terasa hambar, semua hiburan tak mempan menghiburku, semua kesibukan hanyalah mengalihkan perhatianku sesaat saja. Ketika aku sendirian, semua rasa sakit itu kembali menghampiri.

Aku bahkan sudah tidak bisa lagi berteman dengan siapapun, entah kenapa. Mungkin aku ketakutan. Takut dikhianati lagi, takut menyakiti, takut disakiti, takut salah, selalu saja takut untuk memulai sebuah hubungan baru, meskipun hanya berteman. Lengkapnya aku merasa meninggalkan dan ditinggalkan semua orang, meninggalkan dan ditinggalkan dunia.

Aku tahu, ini bukanlah penderitaan terbesar yang mungkin terjadi pada manusia, masih banyak orang yang lebih menderita dari aku, tapi kenapa aku merasa saat ini aku sangat menderita, aku sangat sakit.

Hal yang selalu hadir dalam imajinasiku saat ini hanyalah bagaimana cara bunuh diri yang efektif. Hal yang dari dulu selalu kuhindari. Karena bunuh diri bukanlah sebuah jalan keluar yang terbaik untuk siapapun yang sedang menderita seperti aku. Sebenarnya aku sangat ngeri dengan hal yang menyangkut bunuh diri. Aku takut aku akan melakukannya. Tapi pikiranku selalu saja ke arah

sana

, bunuh diri.

Aku pernah terobsesi dengan bunuh diri, dulu. Aku selalu merasa bahwa bunuh diri adalah cara mati yang paling indah. Tapi aku sudah meninggalkan pikiran itu ketika aku bertemu dengannya. Dia datang padaku dengan mengenalkanku pada realitas, karena sebelum ketemu dia aku lebih banyak hidup di dunia mimpiku, di dunia fiksi yang kubangun sendiri. Aku bahagia dengannya, meski aku harus meninggalkan dunia fiksiku yang kucintai sebelumnya, aku lebih mencintainya. Aku senang dengan realitas yang ditawarkannya padaku. Aku menjalaninya, membangun mimpi bersamanya. Bahkan aku sudah tidak punya mimpi untuk diriku sendiri, setiap kali aku bermimpi selalu mimpi bersama dia, mimpi untuk kita berdua. Dan kupikir diapun melakukan hal yang sama sepertiku. Hingga pada akhirnya dia meninggalkanku saat aku sudah benar-benar tidak punya mimpi untuk diriku sendiri, semua mimpi yang kususun adalah mimpi-mimpi bersamanya.

Ketika dia meminta untuk mengakhiri hubungan, aku benar-benar shock, karena ini benar-benar diluar dugaanku, duniaku langsung runtuh seketika, mimpi-mimpi yang kubangun untukku dan untuknya hilang seketika. Aku limbung dan nyaris muntah-muntah. Aku mencoba menerimanya, tapi malah rasa sakit luar biasa yang muncul. Manusia tidak bisa hidup tanpa mimpi bukan? Sekarang aku benar-benar tidak lagi punya mimpi, aku merasa untuk apa lagi aku hidup, karena selama ini aku hidup karena ada dia disampingku, selalu ada dia, untuk dia.

Sekarang aku hidup untuk apa!

Aku sudah tidak punya energi untuk melakukan apapun. Sedangkan dia… dia sudah merencanakan hal ini 3 bulan sebelum memutuskan hubungan, dia sudah membangun mimpinya sendiri secara diam-diam selama 3 bulan tanpa mengikutsertakan aku didalamnya. Jadi dia sungguh baik-baik saja. Aku? Jelas tidak! Ini terlalu mengagetkan, terlalu cepat. Selama ini aku membayangkan menghabiskan masa depanku dengannya. Sedang realitas yang kuterima sekarang tidak begitu.

Aku harus memulainya lagi dari awal, memulai hidupku dari awal, karena semua kehidupanku sudah diambilnya, semuanya. Dan aku sudah tidak punya energi lagi bahkan hanya untuk memulai.

Apa benar dalam kondisi seperti ini jalan terbaik adalah mengakhirinya saja. Dalam hal ini apakah aku harus mengakhiri hidupku saja untuk menyelesaikan segala urusan?

Somebody, help me please…! Beri aku jalan keluar, apakah aku harus memulainya lagi dari awal? Bagaimana caranya? Atau akhiri saja? Bagaimana juga caranya?

Aku tahu, ini terdengar sangat cengeng dan cemen, tapi aku benar-benar sedang butuh bantuan sekarang, bukan  judgemental.

It's not the beginning...

Aku mengurai-ngurai luka beberapa kali, sampai tanganku kebas. Awalnya tak kutemukan apa-apa disitu. Meskipun beberapa kali aku seperti menemukan sesuatu, seperti misalnya seonggok borok bernanah yang kusangka adalah hal yang kucari-cari itu, ternyata itu hanyalah borok bernanah yang ditanam oleh makhluk-makhluk di masa lalu yang pada saat itu sering menghantuiku saat sebelum tidur dan yang kemudian membangunkanku juga dari tidur yang tak pernah nyenyak itu.
Aku meneruskan mencari, kali ini yang kutemukan - seperti yang pernah kuyakini sebelumnya - bukanlah yang benar-benar ingin kutemukan, hanya sebuah jerawat kecil menyakitkan yang bertengger dengan kuat dan tak terpecahkan di bawah hidungku, tepat diatas bibir tempat asap rokok biasanya mengepul deras menghindari kepulan ke arah mata. Jerawat itu berbeda dengan borok bernanah tadi, dia bukan hal yang ditanam oleh makhluk-makhluk di masa lalu tetapi sebuah cerca yang kemudian akan mengejutkanku saat bangun tidur dan lantas menatap cermin, menjerit. Yang jelas bahwa bukan dia yang sedang kucari.
Ketika tiba-tiba lelah dan putus asa menjajah pencarianku itulah ternyata yang membawaku menemukan benda itu diantara beberapa luka yang berdarah cukup busuk dan berbelatung ria diantara kedua selakanganku. Benda berbentuk uraian panjang sebuah teks yang terpelitur mengkilap dalam sebuah kutipan lengkap tentang hidup seseorang yang pernah kuyakini ada keberadaannya dalam beberapa bagian hidupku yang terurai-urai pecah berantakan. Setidaknya dengan menemukan ini aku mungkin bisa membuat sebuah formula lem super rekat untuk menyambungkan bagian-bagian hidupku yang terpecah-pecah tak beraturan itu.
Ini akan menjadi semacam permainan puzzle tanpa batas di semua sisinya. Dan aku mungkin akan menghabiskan sisa hidupku untuk menyusun puzzle-puzzle itu yang - seperti kubilang terus-menerus nanti - “takbisaterbalik-kan”. Hidup adalah “ke-takbisaterbalik-kan” yang kupikir cukup absolut mengencani sisi lain apapun yang berada disekitanya. Tak terpermanai keberadaannya. Seperti jika kau begitu yakin akan mampu mendapatkan pasangan hidup seorang wanita cantik. Maka keyakinanmu itu bisa saja terjawab. Hanya yakinlah bahwa kecantikan wanita dambaanmu itu bukanlah sumber utama kebahagiaan karena pada saat bersamaan harus kau yakini pula bahwa kebahagiaan itu tak berpangkal-tak berujung. Persis seperti puzzle-puzzle yang akan kususun ini.
Maka, Kawan, doakan aku agar bisa cepat-cepat - minimal - mengakhiri hidupku! Dengan cara apapun -tentu! - yang kubisa memaknainya sebagai sebuah harap yang tak berpangkal-tak berujung.