My Photo

February 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29  

« December 2005 | Main | February 2006 »

SERIGALALIA-THERESIANITAS AND OTHER STORIES

SERIGALALIA-THERESIANITAS Perlahan Sangat perlahan Kuteriakan padanya sebuah nama Sebuah nama yang digdaya Sebuah nama yang membantu jantungnya cepat berhenti Perlahan Sangat perlahan Kuceritakan padanya sebuah kisah Sebuah kisah yang perkasa Sebuah kisah yang membantu jantungnya cepat berhenti Lalu kuletakan dia diatas meja panjang persalinan Kubuka lubang rahimnya kuat-kuat Hingga terdengar bunyi robek yang menggema Dari lubang itu aku mendengar sebuah lolongan keras Panjang membahana Sebuah lolongan dari sebuah nama yang digdaya Sebuah lolongan dari sebuah kisah yang perkasa Darah tercecer dan akan terus fantasi Hingga lolongan itu berganti menjadi gumaman Perlahan Dan sangat perlahan Delirium Simulacrum Infinitum Tergores NASIOIRONICALASIA Dia begitu percaya bahwa angin bisa membawanya terbang jauh Menembus kapitalisme semesta Tapi dia lupa bahwa angin tidak pernah ada disana Maka dia akan tetap ada disana Di bawah bendera yang tidak pernah berkibar BREAKTROUGHLOGY-UBERMANSIA Ribuan volt listrik mengalir di telinganya Mendengungkan berita dari Illana “Hai…waktumu sudah tiba!” Dia terbangun Membawa embun terbit di ujung matanya Lalu menggeliat “ah…waktuku sudah tiba!” Melesat Menjadi angin dan selanjutnya cahaya APOCALIPSIA-NEUROPSEUDOTRIA Bumi bergulung di balik selimut tua yang diwariskan cahaya, kakek tuanya Gelap gempita Tutup telinga, gemuruh defragmentasi ribuan tahun Tersesat Buka mata kuat-kuat Menyilau membentuk rangkaian dioda diatas dupa Kerlap Kerlip Berpelantingan Seperti mekarnya mushroom diatas defekan Taurus Seperti itu pula fantasinya Bumi terus bergulung semakin bulat Semakin bersembunyi dibalik selimutakutnya Gelap gempita total PHEROMONIA-ILUSTRASIA Aku tidak akan terkejut Bila dia menyumpal tanah dengan bisikan-bisikan lukanya Aku tak akan terkejut Bila kukunya terus menggaruki tanah merah rapuh Yang merendam ingatannya 6 kaki di bawah asap-asap dupa yang menjelma doa Tapi betapa terkejutnya aku Ketika tahu bahwa nafasnya terengah Melarikan diri dari hirupan kecewanya Seperti dua kutub yang beradu Negatif-Negatif Atau Positif-Positif Karena jauh di ujung sana Aku tahu Ada setengah pedang yang terbelah oleh tebasannya sendiri Sekarang aku juga tahu Bahwa bau ilalang yang bergemerisik Adalah Sisa nafasnya yang sedang dia kejar Satu titik embun Terjatuh dari ujung terjauh dagu semesta Dan aku tidak heran atas itu GLOSSOLALIA DIATAS BOTOL VODKA Pernahkah kau mendengar Cerita tentang angin gurun Yang ribuan tahun membentuk sebuah gunung batu Tempat Musa mendapat sejuta perintah dari Tuhan 5000 tahun kemudian Sejuta angin bergemuruh Membawa sejuta perintah dari Tuhan Menerbangkannya ke seluruh kepala yang berdiri tegak diatas iman Dan gunung batu itu sekarang berdiri kokoh Menjulang bagai benteng pertahanan para dewa yang dipuja lupa Melekat di setiap rasa Di setiap kepala Satu-satunya hal yang bisa merobohkan gunung itu Hanyalah angin gurun di zaman musa Yang bisa menghembuskannya Hanyalah sebotol Vodka Seorang tua pernah berkata padaku Jangan tinggalkan botol selalu terisi Terdiam seperti semedi seribu candi Seribu adalah tak ada Ekstasi Sabda-sabda Vodka Glossolalia Kotak Pandora KUTUKAN ILLANA Perempuan itu bernama Illana Seperti senjata berujung cakra Menembus jantungku Merubahku menjadi tiga cawan dusta Dan satu cawan rahasia yang bersembunyi dari seluruh inderanya Cawan pertama berisi dusta nestapa Cawan kedua berisi dusta tiada Cawan ketiga berisi dusta angkara Illana memandangiku Mengumpulkan mukanya tepat ditengah meledaknya waktu Aku tak sanggup lagi menahan satu-satunya cawan Yang mungkin akan membuatnya terlena Tapi aku tak bisa memperlihatkan padanya Yang benar saja… Illana berkata: Sudahlah! Kali ini benar-benar kukutuk kau menjadi pangeran Yang membawa tiga cawan dusta diatas surga Dan satu cawan yang tak bisa membuatmu beranjak turun tangga Semoga bahagia Dan kali ini Aku benar-benar kehabisan dusta Untuk kuteriakan pada Illana-Illana lainnya Yang menggelayuti ujung terjauh dari tasbih suciku Pada Dewa-dewa yang juga menyembunyikan dusta Diantara pedang mereka Yang menebas leher para pemuja Illana