Hello God, i'm very OK now!!!
Damn!!! it's really good...I'm Stoned in Ubud!!!
Dear, God!!!! Thank's Dude!!!
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
« June 2006 | Main | September 2006 »
Damn!!! it's really good...I'm Stoned in Ubud!!!
Dear, God!!!! Thank's Dude!!!
Jum’at, 28 April 2006
Awal dari sebuah perjalanan.
Sebenarnya aku ingin berangkat dari berbulan-bulan yang lalu. Ada beberapa alasan aku harus meninggalkan kota Bandung. Salah satunya adalah bahwa perjalanan ini adalah sebuah keputusan mutlak yang harus kulalui dalam hidupku. Benar-benar meninggalkan masa lalu untuk sebuah kehidupan yang lebih spiritualistic. Breaktrough!
Aku ingin menulis lagi. Aku ingin memecahkan segala misteri dunia. Aku ingin bertemu banyak orang. Melalui banyak kota dan desa. Menuliskan perjalanan itu. Aku sudah muak dengan segala tetek bengek intervensi dalam hidup yang masih kurasakan di kota yang akan kutinggalkan ini.
Aku hanya menunggu sebuah tanda yang besar untuk memulai perjalanan ini. Dan tanda-tanda itu mulai muncul seminggu terakhir. Diawali oleh sebuah pertemuan koinsiden di ccf dengan sepasang lesbian yang tiba-tiba sangat mengagumi segala teoriku tentang banyak hal, meskipun waktu itu aku masih dalam keadaan mabuk. Kupikir mereka adalah rantai karass terakhirku di Bandung. Dan akhirnya saat itu aku memulai untuk berbenah.
Hari Rabu aku membuat dadu. Ada 6 pilihan yang ahrus kutempuh, meskipun sebenarnya aku sangat menginginkan untuk pergi ke barat dahulu lantas ke timur. Ada beberapa syarat untuk memulai pelemparan dadu itu. Diantaranya harus ada 2 orang yang menyaksikan itu. Dan kupikir saat ini, kedua orang lesbian itulah yang layak untuk menyaksikan ritual ini, entah kenapa. Sayangnya hari Rabu itu mereka tidak dapat menemuiku.
Hari kamis, ponselku hilang, sebuah pertanda besar bahwa aku harus benar-benar meninggalkan seluruh masa laluku, jaringanku, rantai karassku yang selama bertahun-tahun kubangun. Ini benar-benar sebuah tanda yang besar. Lalu kuhubungi salah satu dari pasangan lesbi itu. Dan anehnya aku masih mengingat no telp dia, namanya Ria. Untunglah dia bisa menemuiku meskipun sebentar. Dia ngajak ketemu denganku di Ciwalk. Sayang, pasangannya, bernama Dey, tidak bisa datang. Tadi sebelum aku menemui Ria, aku membuat sebuah dadu lagi dari tanah liat seukuran 1x1 cm.
Jam 4 sore kutemui Ria. Dia bilang dia hanya bisa bertemu aku sebentar. Kubilang OK. Lalu kumulai ritual itu. Aku menuliskan 6 pilihan di sebuah kertas:
- Tetap di Bandung
- Pergi ke barat lalu ke timur
- Pergi ke timur
- Pergi ke Bali
- Kerja di Jakarta
- Meditasi di sebuah tempat yang jauh
Lalu aku memberikan kertas itu padanya. Kubilang kamu yang harus menomori pilihan-pilihan ini. Lalu lipat. Lantas aku pergi ke toilet sebab aku tidak boleh dulu melihat urutan nomornya.
Selepas dari toilet, kertas itu sudah terlepas. Lalu keuberikan padanya kedua dadu yang sudah kubuat dari tanah liat tadi. Pilih salah satu untuk kulempar, kataku. Lalu dia memberikan salahsatunya. Dan kubilang, satunya lagi untuk dia.
Lalu aku membaca Bismillah, dan kulempar dadu itu. Keluar nomor 2.
Aku membuka kertas tadi. Urutannya seperti ini:
- Tetap di Bandung 3
- Pergi ke barat lalu ke timur 2
- Pergi ke timur 6
- Pergi ke Bali 4
- Kerja di Jakarta 5
- Meditasi di sebuah tempat yang jauh 1
Sesuai harapanku jauh sebelum ini aku memang menginginkan untuk pergi dulu ke Barat lantas ke Timur. Aku mengucapkan terimakasih padanya. Lalu memeluknya, terucap beberapa kata perpisahan. Lalu aku pergi.
Hari ini, sore hari aku mengepak barang, pamit pada beberapa teman di Stuba, kampus unisba, karena beberapa bulan terakhir aku tinggal disana bersama mereka.
Aku berangkat menuju CCF, menuliskan ini sambil minum beer, aku mungkin akan benar-benar meniggalkan kota Bandung pada hari Minggu, sebab besoka aku harus berpamitan pada pacarku, dan ingin bertemu dulu dengan Dini, mantan pacarku, orang yang paling kusayang.
Sementara menunggu besok, aku melakukan ritual terakhirku di Café Terminus CCF, menulis, beer dan lucky strike.
Bandung; Sabtu 28 April 2006
Terbangun, menggeliat, mengumpulkan nyawa…
Damn! Aku masih di Bandung. Di Sabuga, kantornya Bandung and Beyond, sebuah majalah baru yang menampilkan sisi-sisi lain dari budaya dan entertainment khususnya Bandung, tapi umumnya Indonesia. Memadukan wilayah memori Bandung tempo dulu dengan gaya hidup kekinian. Nostalgia dan Keputus-asaan. Seperti aku sekarang? Tidak…aku pergi karena sebuah alasan. Alasan-alasan featurik seperti majalah ini didirikan. Bandung and Beyond; Sebuah majalah yang mengedepankan feature sebagai alat ampuhnya. Ervin and Beyond; Tak ada seorangpun yang tahu kenapa aku harus dan ingin pergi.
Tapi benarkah aku akan pergi hari ini. Pergi dari Bandung. Untuk waktu yang mungkin sangat lama. Gila, aku menghabiskan 10 tahun umurku di kota ini, kota indah ini, kota penuh kenangan, penuh intrik, penuh teman, pura2 teman hingga teman yang selalu bingung harus berposisi di mana saat aku adalah tokoh kontradiktif, atau bahkan ada yang sengaja memusuhi, yang terang-terangan atau yang sembunyi sembunyi, ini yang bahaya, mereka menjelekkanku di belakang, tapi biasanya sampai lagi ke telingaku, biarlah, aku sudah cukup terbiasa. Di kota ini ada pula sakit bahkan perih, bahagia bahkan ekstasi, ekstasi spiritual, ekstasi alkohol dan ganja, hingga wilayah biasa-biasa seperti bosan dan tak ada apa-apa, atau banyak sekali orgasme, banyak sekali sperma yang berakhir di tisyu, selokan belakang rumah atau yang nyangkut di saringan wc, diatas perut beberapa wanita bahkan beberapa didalam rahimnya, untunglah tak pernah ada yang jadi, kecuali beberapa yang jadi kecoa di selokan sanitasi toilet beberapa kamar mandi yang pernah kupakai coli, atau aku tidak tahu katanya ada juga yang jadi bayi di salah satu cewek yang bahkan namanyapun aku lupa, tapi yang jelas ada di sekitar dua atau tiga wanita yang kutahu jadi tapi kemudian keguguran, dan aku menangis sangat sedih saat itu. Di kota ini ada kesenian, kenabian, penulisan, musik, spirit, tidak fokus, ini juga yang sering dikomplen orang padaku, penk, fokus penk…penk loe tuh Cuma gede omong doang, gak ada realisasi, yah ada teman-teman dengan berbagai dukungan, cemoohan, ejekan, ledekan, hinaan, apapun, banyak... hal-hal kayak gitu harus kutelan bulat-bulat. Tapi ada juga yang kubuatkan apologinya, ada yang kusanggah, ada yang tidak kupedulikan dan ya itu, kutelan bulat-bulat, sebab susah sekali mengunyah kritikan dari orang-orang yang sangat tidak tahu bagaimana membuat kritik yang baik, tapi aku paling suka kritik pedas soalnya mirip dengan kripik pedas. Ini memang harus kukunyah dulu, kalau gak pasti aku batuk atau paling untung keselek. Kritik pedas kayak gini biasanya muncul dari orang-orang tua atau yang sok tua, masih bisa kuterima. Paling males kalau kritik kayak gini dateng dari orang yang sok cerdas, mendingan sok tahu deh, lebih manusiawi daripada sok cerdas. Kalau yang sok tahu ini paling juga kuketawain, yang sok cerdas, bingung harus kuapain, karena orang-orang kayak gini memang selalu merasa paling cerdas, paling tahu, paling bisa, nah ini bahaya, boy! Biasanya berakhir jadi musuhan, dia yang gak nanya atau aku yang males nanya. Entar deh, kisah tentang hidupku sebelum perjalanan ini kubuatkan dalam satu buku khusus, The Prekuel of The Journey, judul yang biasa...males ah, gimana entar aja.
Aku merogoh saku, Cuma 10ribu tersisa, bener penk mau berangkat? Ini bukan keraguan, aku pasti berangkat hari ini, aku yakin bahwa semesta sudah mulai bekerja untukku sejak kemarin untuk mengantarkan keajaiban-keajaibannya lewat kebetulan-kebetulan yang menyenangkan.
Cuci muka, kuangkat ranselku, kugendong di belakang, hahaha...mirip banget dengan gambaran para novelis yang menceritakan tentang backpacker, aku? Backpacker? C’mon, hal ini memang sudah kuimpikan sejak lama, lama sekali, tapi memang sekarang saat yang tepat, meski semingguan lagi aku 27, umur kematian, umur mati muda yang paling pas...tapi, buatku mungkin bukan mati yang itu, tidak seperti Kurt Cobain, Soe Hok Gie, Chairil Anwar, Jim Morrison dan banyak tokoh lainnya yang mati di seputaran 27, aku bukan itu kayaknya, kepergian ke entah mana ini secara simbolik ataupun naluriah adalah sebuah kematian, sebuah hijrah, breaktrough, apocalyptic moment. Kalau dulu aku memang ingin benar-benar mati, tapi kupikir ada banyak juga yang melakukannya hanya simbolik, misalnya Musa, Buddha atau Muhammad. Mereka hijrah, menempuh sesuatu yang baru, dan kebanyakan tanpa tahu akan kemana, hanya semesta dan penciptanya yang benar-benar dipercaya akan memberikan arah.
Aku juga harus benar-benar menyerahkan ini semua pada semsesta, dengan kata lain Tuhan dan semesta sebagai alatnya. Aku harus benar-benar yakin dalam hal ini. Modalku hanya itu ditambah sedikit nekad. Maka jadilah sebuah perjalanan.
Hei, gak kerasa aku dah ninggalin sabuga, nyusurin jalan Dayang Sumbi pagi yang lebat pohon, sedikit dingin, lapar...di depan ada Circle-K, ah...makan dulu ah, ini cukup untuk roti, susu dus dan sisanya untuk nelpon Dini dan ongkos menuju rumah kakakku, mengambil beberapa barang yang penting yang kusimpan di gudangnya dulu saat pindahan kost-an.
Sambil ngunyah dan nyedot di depan CK. Aku liat ada Manda, temen kampusku yang seksi di seberang jalan dago. Aku samperin...Manda! manda menoleh, hai penk, mau kemana lo? Cabut dari Bandung Man... Terus kuliah lo gimana? Gw tinggal, udah gak penting, ilmunya dah gw dapet kok, hehe... lo emang gila.
Loe mau kemana Man? Ke bank, nabungin duit euy, takut keburu abis, tapi harus disini, hari minggu kan tutup, jadi gw ke BCA Customer...hehe, Man, beliin rokok dong, duit gw kempis banget euy! Emang loe mau kemana sih sebenarnya Penk? Gak tahu Man, pokonya ninggalin Bandung aja, dan untuk waktu lama, mungkin ampe umur gw 40-an lah. Gw pengen keliling dunia, Man. Loe sinting ya, mau keliling dunia, buat beli rokok aja loe gak ada. Ya, justru dengan metode ini man gw keliling dunianya, saat ada orang-orang tajir kayak loe, gw gak segan minta rokok misalnya. Ya udah deh, hitung-hitung gw sponsorin perjalanan loe, haha...rokok loe apa sih? Wah gw gak bakalan ketemu loe lagi dong penk dalam waktu lama, ilang deh satu orang gila di kampus,haha... Lucky strike, iya man, kecuali kita papasan di jalan, misalnya saat lo lagi liburan dimana gitu, rencananya kan gw pengen keliling Indonesia dulu, malu ama Bule euy, mereka kok lebih tahu Indonesia, ketimbang gw yang Orang Indonesia, bayangin Man, ke Bali aja gw belum pernah...
Dengan berakhir di cipika-cipiki aku ninggalin Manda yang berjalan ke arah Bank, dan aku menggondol sebungkus Lucky Srike dari CK hasil malakin Manda tadi, haha...punya rokok, sign pertama nih. Lucky Strike. Beruntungkah aku hari ini?
Di simpang Dago, aku telpon Dini....
halo, dini, jadi bisa ketemuan hari ini?
Bisa sih, tapi aku gak bisa sampe sore banget.
Jadi jam berapa ketemuannya?
Dari siang aja, sekitar jam dua belasan, gimana, aku jemput dimana?
Aku ke rumah kamu aja, sekalian aku mau ke rumah AA dulu soalnya, ngambil buku dan beberapa barang, jadi sekalian lewat.
Oh, gitu, ya udah...aku mandi dulu deh kalo gitu.
Emang ini dah jam berapa gitu?
setengah sebelas, sekalian aku juga mau beres-beres dulu
ok, deh kalo gitu, ampe ketemu ya...
ya...
angkot-angkot...sampe antapani, naek ojeg, di rumah kakaku aku gak bilaga apa-apa tentang kepergian, aku malah bilang mau balik ke cianjur, pulang ketemu mama. Aku ambilin barang-barang penting untuk nulis. Soalnya kan laptop gak kubawa, kukasih adikku. Terus pamit lagi...
ojeg-ojeg, angkot-angkot, depan rumah dini, mijit bel, dia keluar baru selesai mandi, masih pake daster, cipika-cipiki, “hey”nya yang khas, selalu kuingat...dia emang seksi banget kalo lagi pake daster...damn gw konak...bukan Cuma seksi sih, libidinal...perutnya gendut...lucu kan...
tungguin ya vin aku ganti baju dulu...
ok...dah lama banget aku gak duduk di kursi tamu ini, melihat straight ke ruang keluarga tempat nyokap ama bokap nya dini nonton TV, hampir 8 bulan yang lalu...sejak kami putus...sakit Man, sakit banget...hal tersakit yang pernah aku alami...soalnya mimpi kita berdua dah tinggi banget...tiba2 after dua tahun dia ngajak putus tanpa alasan yang jelas, maksudku kita sedang tidak ada masalah, dialah yang sedang bermasalah, lalu ditimpain kesakitannya ke aku, gak fair kan??? Itulah kenapa sampe saat ini aku belum juga bisa nerima hal itu, meski kami sudah kembali berteman dekat...wah tapi ceritanya aku dan dia tuh panjang banget...mestinya jadi satu novel yang terpisah juga, hehe...dan mungkin salah satu pemantik perjalananku juga karena itu, karena aku dah gak ada yang harus dipertahanin lagi di bandung, tadinya kan aku berat karena ada dia, sekarang dia gak ada lagi di hidupku, aku jadi agak ringan buat ninggalin Bandung, ya, seserius itu aku akan ninggalin Bandung untuk waktu yang lama Banget, yang tadi kubilang, mungkin sampe umur 40, setelah keliling dunia, bener bener keliling dunia, dan aku yakin aku bisa. BISA dengan TING besar...YAKIN dengan LAFADZ yang besar juga...
Selesai berdandan, kami keluar, pamit sama ortu dini, masuk ke mobil, memutar kunci, mobil berjalan. Kita mau kemana? Tanya Dini. Kamu dah makan, Vin?
Udah sih tadi pagi, kita ke ini aja, mmh...cabe rawit yang waktu itu kita nogkrng tea.
Oh ya, ya udah kesana aja, kan kalo laper juga tinggal mesen.
Cabe Rawit, tempat makan yang sebenarnya udah lama ada di seberang kampus unpar dengan makanan murah terjangkau mahasiswa dan cukup enak itu sekarang buka cabang di jalan apa ya aku lup, pokoknya sebelah potluck deh...ngambil tempat duduk yang gak terlalu ramai, pesen makanan...dimulailah obrolan itu, obrolan yang seharusnya terjadi setahun yang lalu, kami berdua merasa saat sekarang adalah tepat, karena emosi masing-masing dah mereda ditambah kepergian aku yang lama yang mungkin gak bakalan ada moment seperti ini lagi ke depannya. Banyak sekali hal yang ternyata belum selesai anatara aku dan dia. Lama sekali kita berbincang, tentang masa lalu, ada tawa, ada rindu...dan satu hal baru yang kudapat dari percakapan itu, segimanapun Dini terpengaruh teman-temannya tentang perasaannya padaku, ternyata dia tetap menyayangiku, sangat. Kalau meminjam istilah dia, cinta dengan keleluasaan, bukan cinta sexual, tapi cinta yang katanya lebih murni dari itu. Jadi dah gak mau tidur lagi ama gw ya??haha...
Gak tahu Vin, sepertinya nggak, udah beda banget ama dulu...
Masa sih din loe gak pernah horny lagi ama gw? Dia terdiam, bingung mau jawab apa, meski jelas terpasang disana wajah enggan tapi harus butuh alasan agar tidak menyakiti hatiku... ya udah gak usah dipikirin, gw bercanda kok, hehe... dia tersenyum lagi.
SUARA-SUARA
Setengah bagian dari hidupnya dihabiskan dalam tidur. Tidak seperti layaknya kebanyakan manusia, teriakannya terengah pendek-pendek, bahkan lebih tepat disebut erangan.
Billboard besar terang menerpa wajahnya saat erangan itu muncul, darah menetes diujung bibirnya, matanya bengkak biru, bekas pukulan keras, membabat keriangan yang terkadang muncul tiba-tiba dan bersinar dari sana.
Sunyi. Bibirnya merah, lipstick. Matanya dipenuhi eye shadow, sembab, air mata, mengalir membentuk garis hitam dari aliran yang melewati eye liner menuju pipi, dagu, menetes.
Tidur hanya 2 jam dalam sehari. Keterlaluan! Dia belum berhasil mengusir bising itu dari telinganya. Menutup telinga, terdengar gemuruh, suara api neraka, itu selalu dibilang oleh para ulama.
Noise dari speaker, kabel tape yang buruk, digerogoti tikus, jeritan anak tikus, kucing tiga warna, darah tikus di taringnya.
Suara loop yang begitu lambat, mendetak, jantung sekarat. Real drum kits, hentakan gitar pada nada E minor terus-menerus dengan tempo yang sama seperti loop itu, pada 65. Vokal pada lirik: Aku telah keliru memuja dupa sehingga lupa. Aku telah keliru memuja siang sebagai harap.
Suara nafas, dihembuskan kuat dari paru-paru, asap rokok. Detak jantung, degup, masih pada tempo 65. Lagi-lagi real drum kits, lengkap, bass drum, snare, hi-hat, simbal. Menceracas, menggelegar. Reverb full pada bass drum, reverse di beberapa bagiannya.
Hujan menetes pada atap seng. Paruh ayam mematuk pada beras-beras di atas seng. Masih pada tempo 65. Adzan shubuh. Pulas.
Mantra-mantra. Doa-doa. Rintihan-rintihan. Suara jilatan. Mencekik.
Sabda sinis. Hantu-hantu. Melingkarkan senja pada terbenamnya matahari pucat. Hentakan kaki pada sepatu yang tengah berlari. Air wudlu meluncur deras dari kran toilet masjid. Beribu malaikat mendekat, berkelebatan, mencabut nyawa, suara kepak ribuan sayap. Gemuruh angin.
GAMBAR-GAMBAR
Jutaan pixel visual, membentuk ribuan frame, dengan 24 frame setiap detik dalam waktu tak terhingga, menyerbu mataku beramai-ramai, seperti kerubutan burung pipit yang sedang bermigrasi ke timur untuk mejalani pernikahan massal di sebuah gua suci tempat para rahibnya bersemedi. Lantas dengan sebuah kenekadan luar biasa, keberanian luar biasa, kekuatan luar biasa, aku meraih remote control di atas buffet, terengah, merayap, terengah, (jutaan pixel visual terus mengerubuti mataku, kepalaku, memenuhi semua ruang di langit-langit benakku), tercabik sebuah paku yang mencuat dia atas lantai kayu kamarku, terengah, merayap, meraih, tercabik… tapi dengan semangat seorang sufi mencapai ekstase, delirium, tubuhku berdarah-darah, delirium…
Nis… tunggu… niska… tunggu… niskala…! Tunggu… ha.ha. aku sudah paham betul dengan rajukannya yang seperti itu… rajukan bernada E minor, sedikit merengek, distorsi dan sekepal rayuan yang membuai seribu dusta diatas surga (coba tolong dibalik-balik untuk kata “buai”. Dapat kata “baui!”? ok…).
Dasar mata-mata… pernah suatu kali aku berkata padanya, seperti kata-kata Joey untuk Samantha saat Joey sedang memasuki bidang putih terang dengan gemuruh air terjun yang menderas, menderacas…
Coba perhatikan ini:
Babak I.
Episode I.
“Joey…, Joey…, tunggu aku!”
Joey membalas berteriak
“Samantha?
Kau bukan Samantha!
Aku tidak kenal kau”
Samantha bernyanyi
La… la… la…
Joey berkeras
“Kau bukan Samantha
minimal, bukan Samantha yang kukenal.”
Nah… mirip, mirip seperti itu…
Nis… tunggu… niska… tunggu… niskala…!
Lalu kubalas: “Karna…? Kau bukan Karna! Aku tidak kenal kau!”
Lalu dia memainkan gitarnya, memetik melodi lagu pertama kami… cras… cras… cras… (Seperti suara golok menebas leher)
Dasar bodoh… aku tetap berkeras, kujawab: “Kau bukan Karna, minimal (paling tidak), bukan Karna yang kukenal!”
Lantas kutinggalkan dia dibalik cermin… dan aku mulai berjalan memasuki bidang putih. Setelah aku berada didalamnya, aku bersama ribuan cahaya lainnya didalam tabung televisi 14’ ini menyerbu matanya, mengerubuti matanya, kepalanya, memenuhi semua ruang di langit-langit benaknya… Maka terjadilah…
Ya… aku berada didalam kepalanya, menjadi matanya, menjelma tangannya, menggelitik telinganya, membuai rongsokan hatinya… menjadi dirinya… siapa?
Lalu kudekati cermin… sebab kupikir Karna sudah pergi menemui If yang sedang berduka… kudekati lebih dekat lagi cermin… cermin… ah aku melihat wajahnya… ah… aku kenal sekali dengan wajah ini… bahkan sangat kenal… sangat dekat… dia adalah…
Setelah itu dia berkata dia adalah…
***
Akhirnya aku mendapatkan remote ini. Dengan cepat kutekan tombol power. Televisi mati. Jutaan pixel visual dan ribuan frame memudar, berputar cepat lalu menciut dan mati…
Lalu aku merasakan sakit yang hebat di langit-langit tempurung kepalaku, seperti dipukuli palu godam berkali-kali… sakit sekali… dan entah kenapa aku tiba-tiba berjalan, tanpa kusadari, menuju cermin dan melihat wajahku sendiri, masih dengan sakit kepala yang hebat, tapi… tapi… ini bukan mataku…mata ini… mata ini sering sekali kupandangi, (saat itu aku selalu memandangi matanya hanya berjarak 2 cm), ah… Niskala… Maha Guru Niskala… akhirnya kau datang. Terima kasih, aku begitu tersanjung engkau mampir ke dalam tubuhku, langit-langit tempurung kepalaku, mataku, tanganku. Well… selamat datang Niskala… selamat datang di tubuhku, langit-langit tempurung kepalaku, mataku, tanganku. Pantaslah begitu sakit, sakit kepala hebat yang kurasakan seperti saat aku sedang bercinta denganmu… masih ingatkah kau Niskala… saat-saat itu… saat kau harus memacu orgasme-mu lebih cepat agar aku tidak terus menjerit, tidak merasakan lagi sakit hebat ketika kau sedang berada didalam vaginaku. Lalu kau belai aku dengan aroma kuat spermamu yang muncul dari tangan lembutmu untuk membelai aku. Oh Niskala… aku tak tahu lagi harus berkata apa, aku kehabisan kata untuk menggambarkan rasa bahagia yang ada dalam diriku…
BIDANG MIRING
Kira-kira semua hal itu terjadi 5 tahun yang lalu, saat reringkikan kuda masih meneriakan ulang sabda-sabdanya, saat keheningan benar-benar menjadi musuh utamanya sekaligus yang paling dicintainya, saat anak-anak kampung masih mempunyai lapangan luas untuk bermain layangan, saat nyawa manusia masih sangat mahal untuk diperjualbelikan, saat kedigdayaan aksi panggungnya mampu meruntuhkan keimanan seseorang tentang sesuatu yang selama ini mengakar dan terperangkap dalam kepalanya masing-masing.
5 tahun yang lalu yang memangkas waktu hidupnya hingga 5 tahun kedepan, hingga sekarang:
Mungkin dengan pisau aja sudah cukup. Menurutmu bagaimana? Atau dengan cara-cara lain yang lebih indah seperti yang sudah beberapa kali kulihat dalam film SUICIDE? Ah, terlalu bertele-tele. Tapi method of suicide yang ada di novel Episode IV kayaknya juga udah cukup. Aku gak suka darah. Aku gak suka melihat darah keluar dari tubuhku. Jadi metode memakai pisau langsung dicoret dari list. Loncat dari gedung tinggi? Menarik, tapi sepertinya aku juga gak suka kalau kepalaku pecah berantakan. Kejaranku bukan seni, tapi efektifitas. Aku gak bakalan terlalu pusing mencari mana yang paling indah dari kesemuanya, tapi mana yang paling efektif, cepat dan tanpa mengeluarkan darah sedikitpun juga tanpa merusak bagian tubuhku dimanapun. Kalau begitu listrik!
HUJAN deras sekali hari ini, padahal sudah tiga bulan terakhir ini matahari seperti dapat mandat dari Tuhan untuk terus menyorot tanpa memberi ampun bagi siapapun yang membencinya. Salah satunya aku, matahari membuat kulitku cepat hitam dan aku benci menjadi hitam dan tak ada satu metode pun yang bisa membuat kulitku cepat putih kembali. Itulah kenapa hari ini aku senang sekali, aku bisa keluar rumah tengah hari tanpa ada sedikitpun ketakutan untuk menjadi hitam. Meski itu berarti aku basah kuyup, tapi tak apa, aku suka hujan, suka, bukan cinta seperti lelaki ciptaan Cindhil yang begitu mencintai hujan. Aku tak sedalam itu, cukup suka sebab sudah ada yang kucintai, DIA!
Dia seorang gadis meski aku tak begitu yakin Dia masih “gadis”, hanya mengingat umurnya saja yang dikategorikan sebagai masih seorang gadis. Gadis yang begitu cantik dan laris. Dia adalah kecengan bersama, rebutan banyak mahasiswa, bahkan dosen gak ketinggalan, belum anak-anak kampus lain. Track record lelakinya melebihi jumlah penduduk se-kelurahan. Jarang sekali dia lajang (jomblo). Kelakar anak-anak di sekolah: jomblo terlamanya satu hari dan tercepatnya setengah detik. Setengah detik yang lalu dia putus di telepon, cowok didepannya yang lagi jalan sama dia langsung ngajak dia pacaran dan dia langsung nerima saat itu juga. Keren!
Setelah berhujan-hujan sambil riang dan basah kuyup, aku langsung mengeringkan diri di sebuah café tempat biasa aku nongkrong dan juga sudah terbiasa dengan segala tampilanku yang selalu berbeda, termasuk basah kuyup saat ini. Duduk disana, memesan kopi panas, menyalakan rokok, meminta asbak, memulai ritual. Ritualku adalah mengeluarkan setumpuk kertas yang setengahnya sudah terisi dan mulai mengisi halaman-halaman kosongnya. Ya, aku sedang menulis novel. Novel cinta. Tentang aku, tentang Dia. Kau juga boleh menganggap ini adalah cerpen yang menjadi sinopsis dari novel yang sedang kubuat. Ini tentang aku, ini tentang Dia.
Dalam cerita novel itu aku bernama Andre, aku suka nama itu sebab sangat umum dan pada akhirnya banyak mewakili orang-orang biasa seperti aku. Andre seorang mahasiswa sementara aku bukan. Andre tampan, aku tidak. Tapi Andre memiliki nasib yang sama seperti aku, selalu ditolak wanita. Aku selalu ditolak wanita karena aku buruk rupa. Sementara Andre selalu ditolak wanita karena sikapnya yang selalu menyebalkan. Hanya itu perbedaan aku dan Andre, selebihnya sama. Tadinya aku tidak ingin melibatkan kehidupan pribadiku dalam karyaku seperti yang selalu dilakukan oleh Milan Kundera. Tapi setelah suatu kejadian yang akan kuceritakan ini, cerita novelku ku ubah menjadi tentang aku dan, karena kejadian ini melibatkan Dia, tentang Dia. Dia dalam novelku ku beri nama Ervi, nyaris mirip dengan nama aslinya.
SEMBURAT merah menyelubungi sore, di kejauhan terdengar suara ribuan burung pipit yang sedang melakukan migrasi semesteran setiap musim pancaroba. Seorang gadis biru muda memandangi langit di barat dengan semburat merah yang kini memantul melalui mata jernihnya. Kepalanya dipenuhi berbagai hal yang selalu menghantuinya siang-malam.
Masa lalu. Selalu tiba saatnya mengubur masa lalu itu dalam-dalam. Kenangan manis saja sudah sebegitu menyakitkannya apabila diingat, apalagi kenangan buruk.
Flashback:
Ibunya memberi namanya Gadis, tapi sebenarnya ayahnya tidak pernah setuju dengan nama itu, ia lebih suka nama Bumi, lebih menghentak ketimbang Gadis yang terlalu massif. Tapi saat itu ayahnya harus bungkam karena empati pada ibunya saat melahirkan. Betapa menyakitkan saat melihatnya, ayahnya membayangkan andai ia yang melahirkan, baru melihat saja sudah sakit sekali…
Akhirnya ia bungkam, sepertinya istrinya lebih berhak, dengan kesakitan yang sedahsyat itu, untuk memberi bayinya nama itu: Gadis.
Gadis bertumbuh besar dan lebat dengan cepat. Tak ada yang menggangu kebahagiaannya semasa kecil. Semua orang menyukainya, orang tua nya selalu memanjakannya, memberikan apapun yang ia mau.
Hingga suatu ketika, ada suatu kejadian yang merubah total seluruh masa depan yang selalu dimimpikannya, IA HAMIL!!!
Hari sudah gelap. Gadis berhenti memandangi langit. Lantas tubuhnya pergi mengikuti ibu jari yang sejak tadi menghendaki toilet. Toilet terdekat beberapa meter dari jembatan tempat ia nongkrong tadi. Toilet itu sebenarnya bukan toilet umum, tapi beberapa pemiliknya selalu berbaik hati membiarkan orang-orang untuk numpang buang air di toiletnya, dan kebetulan toiletnya berada di ujung halaman depan, di luar rumah, entah untuk tujuan apa dulu orang Belanda itu membangun toilet disana. Hingga orang itupun, pengusaha pakaian dari Jakata, yaitu pemilik baru rumah itu, tetap mempertahankan toilet itu untuk tidak dirubuhkan, bahkan terus di rombak.
Dari toilet inilah seharusnya kisah tentang Gadis ini dimulai.
PERUTNYA mules gara-gara kebanyakan makan rujak tadi pagi. Lantas dengan semangat kebelet yang begitu tinggi dia lari ke toilet dengan harapan tertingginya, semoga toilet itu kosong.
Gadis mengenal Andre karena sekelas di mata kuliah feature. Yang membuat Gadis tertarik sama Andre standar: Andre baik, Andre tampan. Suatu kombinasi yang jarang sekali ada dalam kebanyakan cowok. Gadis tidak percaya dengan kelakar teman-temannya; cowok itu cuma dua jenis: 1. Brengsek 2. Gay.
Sebenarnya benar juga sih, kata Gadis pada teman-temannya. Tapi Andre itu Anomali. Dan anomali yang sempurna dan menyenangkan karena tampan. Ya, tampan tapi tidak berkarakter, namanya saja sudah Andre, kata teman-temannya. Jangan lihat dari nama dong, balas Gadis, tapi lihat, Andre itu selalu berwajah cerah, terang, bercahaya, seolah-olah ditubuhnya ada listrik dan mukanya adalah lampu neon yang bisa menerangi orang-orang di sekitarnya, kalian tahu kenapa? Kenapa? Sebab dia gak pernah ketinggalan Shalat, jawab Gadis, kalian percaya gak? Ini memang gak masuk akal, tapi percayalah Allah akan memberikan cahaya di wajah orang yang tidak pernah meninggalkan Shalat. Andre gak pernah meninggalkan Shalat, terutama yang lima waktu. Itu mutlak! Dan teman-temannya percaya. Dan semenjak itu teman-teman Gadis menjadi respek pada Andre setelah melihat teman-teman mereka yang lain yang berwajah kelam dan mereka membuktikan bahwa teman-teman yang lain itu tidak pernah atau jarang sekali Shalat lima waktu. Dan semenjak itu mereka jadi ngeri meninggalkan Shalat, termasuk Gadis.
Toilet itu kosong! Thank’s God! Tanpa basa-basi Gadis langsung masuk ke toilet, sebelumnya menabrak seorang cewek yang lagi ngobrol dengan temannya di depan cermin wastafel, membanting pintu, menguncinya dengan paku yang tergantung disebelah slotan karena kunci selot yang lama sudah rusak, mengangkat roknya, memelorotkan celana dalamnya, jongkok dan keluarlah suara keras kasar dan sember, dan rasanya tak ada satu kata pun yang tepat untuk mewakilkan suara ini. Dan diakhiri dengan kata “Ah…!” yang panjang. Setelah itulah konflik ini dimulai. Segala kejadian memuakkan ini dimulai. Suasana menjadi hening. Gadis bisa mendengar obrolan dua cewek di depan cermin tadi. Amarahnya menggelegak…. Anjing, sialan, brengsek!!! Gadis berharap bokernya cepet selesai, tapi mulesnya gak ilang-ilang, sial, cewek-cewek itu keburu pergi, Gadis tidak sempat mengingat kedua wajah cewek tadi, soalnya tadi terlalu terburu-buru.
Setelah selesai cebok lantas Gadis mengelap pantatnya dengan tisyu, memakai lagi celana dalamnya, cepat-cepat membenahi roknya dan berlari keluar mengejar cewek-cewek tadi. Gua hajar mereka! Berlari... Anjing, dasar pecun! Berlari... Shit! Berlari... Saat Gadis sudah diluar, dia melihat banyak sekali cewek yang berlalu-lalang, Gadis benar-benar gak tahu yang mana cewek-cewek tadi… Sial! Anjing, kalau gua tahu wajah mereka tadi, andai gua gak kebelet banget,andai tadi gua sempet ngeliat muka mereka saat gua nubruk mereka, andai mules gua cepet ilang. Gak bakalan gua ampuni mereka!
ERVI, gadis idaman semua orang, cantik, seleb, cuek, libidinal, mulus, putih, sexy, jago main gitar. Dan band nya pun sangat terkenal, siapa yang tidak mengenal Samantha Impossible Dream. Setahun yang lalu ada sebuah kejadian mengerikan menimpa band ini dan ditambah setelah kejadian itu vokalisnya menghilang. Band ini dikabarkan bubar setelah itu, nasib yang menimpa mantan personil lain gak pernah dikabarkan lagi.
Ervi kembali ke kampus, meneruskan kuliahnya lagi. Ingin melupakan band-nya untuk selama-lamanya. Memulai hidup baru. Dan Ervi memilih untuk memanfaatkan kecantikan dan ketenarannya untuk mendapatkan semua cowok kampus yang disukainya. Dan dia berhasil.
ANDRE ingin memulai perkenalannya pada kalian dengan caranya sendiri, dia ingin perkenalannya dilakukan dengan dirinya sebagai “aku”. Begini perkenalannya:
Sial bener...!
Tugas lagi... tugas lagi...!
Semester ini gue ngambil 21 sks, itu juga hasil nge-lobi dosen wali, harusnya gue cuman dapet 15 sks soalnya ipk gue semester kemaren cuman 1,75. Sebenernya bukan karena gue bodoh sih, cuman gue suka males-malesan kuliah. Bukti kalo gue gak bodoh adalah gue bisa ngelabuin dosen wali gue dengan rayuan-rayuan dahsyat khas gue yang biasanya gue pake buat nyatain ama cewek-cewek Bandung yang semok dan bohai.
Tahun ini harusnya gue dead line, temen-temen seangkatan gue udah pada ngambil skripsi. Pokoknya totally semester ini gue ngambil kebawah semua. Damn!
Harusnya gue ngambil kuliah penulisan feature dan artikel itu tahun lalu, investigasi juga.
Dua mata kuliah itu totalnya 6 sks, dan mata kuliah wajib buat anak jurnalistik. Dosennya sama, Septiawan Santana K, Drs. Dosen ini agak aneh sendiri dibanding dosen lain, slengean gitu deh. Kalo dia ngajar gak pernah nerangin boring kayak dosen-dosen lain, dia selalu ngajak anak-anak diskusi, ngerangsang anak-anak supaya ngeluarin pendapat. Kata dia, kalo teori lu bisa baca di rumah, di kampus saatnya ngaplikasiin dan ngediskusiin isi buku itu. Satu hal yang gak bisa ditebak dari dia adalah dia bisa deket banget ama anak-anak, tapi kalo urusan nilai dia gak mandang itu. Banyak banget anak-anak angkatan-angkatan sebelumnya jadi harus ngulang padahal diluar kelas mereka dekat banget ama dia. Sampai kata salah satu gosip, dia sering minjem film bokep ama anak-anak.
Satu prinsipnya yang bikin jengkel anak-anak adalah; diluar dia bisa jadi temen tapi di kelas tetep aja dia dosen yang cenderung otoriter, meski ngajarnya asik, bikin anak-anak semangat dateng ke kampus.
Satu lagi hal yang gila, buku pegangan untuk mata kuliah itu dua-duanya di tulis ama dia. Yang satu judulnya Jurnalisme Sastra. Yang satu lagi judulnya Jurnalisme Investigasi. Gila ya dia, soalnya buat gue orang yang bisa bikin buku, apalagi dua buku, itu keren banget. Gak semua orang punya energi sebesar itu. Apalagi yang dia tulis itu buku teks, bukan sastra, itu kan lebih sulit, Man!
Cuman kekurangan dia yang paling parah hanya satu, kalo ngasih tugas gak tanggung-tanggung. Bejibun, Joe!
Tengah semester kemaren dia ngasih tugas nulis feature, tugasnya sih kelompok, cuman masing-masing harus nulis dari sudut pandang yang berbeda dan minimal masing-masing sepuluh halaman pula. Satu kelompok kan satu orang, jadi keseluruhan jumlah laporan itu harus 100 halaman. Mampus! Yang lebih mampus lagi si Apenk, soalnya dia yang harus ngedit dan bikin by line masing-masing harus mempunyai keterkaitan...
Kelompok gue kebagian nulis tentang penjaga kuburan waktu itu. Gak usah diceritain lah gimana asiknya ngeliput di kuburan keramat, apalagi 24 jam. Banyak banget keajdian yang aneh-aneh.
Tugas investigasi juga sama, 10 orang satu kelompok, masing-masing nulis sepuluh halaman nganalisis isi film All The President's Man. Tahu kan film itu? Kebayang kan, 100 halaman analisa dari satu film yang kurang-lebih cuma dua jam.
Pokoknya gue ama anak-anak jadi ngerasa gak ada mata kuliah lain, cuma mata kuliah dia doang. Sebulan penuh cuma ngurusin dua mata kuliah itu doang. Mata kuliah lain udah gak kelirik, padahal mata kuliah lain juga banyak tugas. Gak tau kenapa pokoknya dedikasi anak-anak jadi terpusat ama Septiawan ini.
Gue sebenernya terpaksa masuk ke kampus ini, formalitas doang ama bokap nyokap buat kuliah. Gue kan males ikut UMPTN, ngantrinya itu lo Bo, males kan! Jadi gue langsung, sambil iseng sih, ikut ujian masuk ke kampus ini, swasta, milih Fikom ama Hukum, asal aja. Kata orang-orang sih palingan gue cuma masuk Hukum, soalnya meski swasta, Fikom disini saingannya banyak. Gue sih gak peduli mau masuk mana kek, emang gue pikirin! Akhirnya gue terjebak masuk Fikom. Gak usah gue sebutin nama Universitasnya lah ya, gak enak, soalnya nama Universitas ini udah banyak track buruknya di mata orang-orang, gak usah gue tambah-tambahin. Sebenernya gue juga banyak tau buruknya kampus ini dari temen-temen gue yang sok aktivis waktu mabuk bareng. Dasar orang mabuk, ya dia ngeracau, meski gue gak percaya-percaya amat, tapi emang ada beberapa omongannya yang masuk. Misalnya masalah Rektorat yang korup. Udah ah, gue males ngomongin gituan, sumpeh gak ngerti.
Intinya gue seneng bisa jauh ama bonyok yang sibuk nyari duit di Jakarta. Bandung emang tempat pelarian yang OK, Joe!
Balik lagi ke masalah, buat ujian akhir semester, gue ama anak-anak kelas dapet lagi tugas bikin feature, kali ini gue kebagian nulis tentang anak-anak jalanan. Kalo tugas kemaren cuma di konsentrasiin ama satu subjek dalam satu lingkungan sosial, misalnya penjaga kuburan tadi, namanya Pak Dana. Sekarang harus nulis keseluruhan satu lingkungan sosial dalam lingkup kecil.
Karena gue ama anak-anak sering banget lewat depan Planet Dago, dan sering banget liat mereka ngamen, akhirnya gue ama anak-anak satu kelompok milih anak-anak jalanan yang mangkal di kawasan depan planet dago untuk kita jadiin bahan buat tulisan feature, terutama para pengamen, tukang parkir ama calo angkot.
Kali ini gak usah by line, di satuin aja, halamannya bebas. Kelompoknya masih yang dulu. Masih ama si Apenk, Jacky, Diar, Ibey, Agung, Ucok, Erik, Jackson, ama cewek satu si Iis.
O ya, nama gue Andre, standar anak Jakarta banget ya, Joe! Meski sebenernya gue gedek banget ama anak-anak Jakarta yang kuliah di Bandung yang rata-rata pada ngehe', rese' dan belagu banget. Serasa paling kota, gaya hidup paling metropolis, padahal buat gue justru mereka yang kampungan. Sok kota banget deh, padahal kan trendsetter itu, yang gue tau dari dulu itu kan jelas dari anak-anak Bandung. Gue akuin itu sejak gue masih sekolah di Jakarta. Anak-anak Jakarta itu cuma sok-sokan doang deh, beda ama anak-anak Bandung, dimana fashion, musik dan gaya hidup itu adalah bener-bener idealisme. Meski sekarang banyak juga anak-anak, terutama yang suka nongkrong di distro-distro yang ketularan virus Jakarta: Hedon dan Matre'.
Ini hasil laporan tugas gue, Jack!
Selanjutnya Andre ingin memperlihatkan pada kalian hasil laporan tugasnya. Tapi kupikir gak begitu perlu di cantumkan sekarang. Mungkin nanti akan kubuat lampirannya agar Andre gak marah. Terus terang, perkenalan pertama Andre tadi sama sekali tidak mengimplementasikan seperti apa dia sebenarnya, kalian pasti berpikir Andre itu selengean, ceroboh dan lain-lain. Jangan tertipu, dia gak seperti itu. Tentang keluarga, asal-usul, dimana dia kuliah mungkin bener. Tapi cara dia bicara, bahasa dan pemikirannya gak seperti itu. Dia memperkenalkan diri dengan cara itu hanya karena ingin dipandang lain oleh kalian, dia bosen dipandang baik terus oleh semua orang, hal itu cukup membebaninya. Dan satu hal lagi, Andre bilanga bahwa dia bisa lebih bebas berbicara dalam tulisan ketimbang lisan. Ada kebiasaan lama yang gak bisa hilang, seperti sopan santun yang diajarkan oleh orang tuanya ketika dia mengimplementasikan pemikirannya dalam bentuk lisan. Tapi ketahuilah, Ndre, meski kau memperkenalkan diri dengan cara itu, teman-temanmu gak bakalan ketipu, penampilanmu gak bakalan bisa nipu, kau tetap orang baik, sholeh dan hidupmu juga baik-baik saja. Lurus. Lancar.
ADA sebuah kejadian yang juga berhubungan dengan toilet itu yang merubah drastis seluruh hidup Andre, dan lebih menjelaskan kenapa dia tidak ingin dipandang sebagai orang baik. Nanti kuceritakan.
Kembali pada Gadis;
Permulaan:
Rumah itu berwarna biru. Rumah itu dikelilingi pagar tanaman setinggi 3 meter sehingga birunya rumah kadang tertutup oleh hijaunya daun. Rumah itu cukup luas untuk ukuran rumah-rumah urban jaman sekarang. Rumah itu memiliki 40 % sisa peninggalan Belanda, 60 % nya lagi hasil rombakan pemiliknya di tahun 80-an. Rumah itu kini dihuni oleh seorang pembantu dari seorang pengusaha pakaian dari Jakarta. Rumah itu sudah berpuluh kali berganti kepemilikan semenjak dibangun pada awal tahun 1890-an. Rumah itu dibagian depan masih bergaya Victoria, sementara bagian belakang sudah mengalami perombakan besar-besaran oleh pemiliknya di tahun 80-an seperti yang telah diceritakan tadi. Rumah itu memiliki bagian belakang bergaya kampungan karena pemiliknya di tahun 80-an itu seorang kaya baru yang baru menjual tanahnya di kampung dan membeli rumah di kota kemudian bangkrut lagi setelah selesai membongkar rumah itu dan menghabiskan uangnya untuk foya-foya dan berjudi. Rumah itu kini bersih dan tertutup dari kemungkinan kampungan seperti sebelumnya sebab pengusaha pakaian dari Jakarta itu berhasil menutupinya dengan desain interior yang bagus dan desain eksterior yang bagus sebab pengusaha dari Jakarta itu tidak kampungan. Rumah itu dicat biru oleh pengusaha pakaian dari Jakarta itu sebab pengusaha pakaian dari Jakarta itu selalu gagal dalam hubungan percintaan. Rumah itu baru dikunjungi oleh pemiliknya sekarang yaitu pengusaha pakaian dari Jakarta itu setiap akhir minggu sebab akhir minggu adalah hari libur bagi pengusaha pakaian dari Jakarta itu.
Hanya satu yang sebenarnya cukup menggangu dari rumah itu yang tidak dibongkar oleh pengusaha pakaian dari Jakarta itu, yaitu sebuah toilet yang berkesan umum yang ngejogrok tepat di depan rumah itu, entah kenapa, dia hanya mencat ulang temboknya menjadi biru. Hanya pemilik dan mantan-mantan pemilik rumah itulah yang tahu kenapa toilet itu tidak pernah dibongkar padahal menggangu sekali pemandangan indah rumah itu. Menurut gossip yang beredar sih katanya hal itu berhubungan dengan syarat dari “penghuni” pertama rumah itu, seorang hantu wanita Belanda yang masih suka bergentayangan saat malam-malam tertentu. Aku gak percaya dan gak begitu tertarik dengan mitos itu. Pasti ada alasan lain yang lebih logis dari cerita tadi. Dan dugaanku benar!
Permulaan yang buruk!
“Kembali pada Gadis-nya kapan?”
“Sekarang, Cerewet”!
Gadis sebenarnya selalu memiliki permulaan yang baik, tapi entah kenapa selalu berakhir buruk. Jadi sebaiknya kuceritakan dulu akhirnya yang buruk itu baru nanti permulaannya agar kalian gak bete. Sebagai penandanya biar kumulai dari 5. Nanti berkahir di 1, yang berarti awal.
5. Sebuah puisi:
Hari
Hilang
Temaram
Membias
Lenyap
Perlahan
Tabur
Jelang
Badai
Angin
Lambat
Tamat
4. Sebuah cerita tentang keluarga:
JURAGAN Medi mengikuti apa yang diperintahkan kyai dari Jampang itu. Berdzikir sebanyak 100.000 kali selama 3 bulan, kalau bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan, katanya itu lebih baik. Tapi yang benar aja…coba kau bayangkan, 33 kali aja malesnya minta ampun setiap kau habis shalat… katakanlah apabila shalat itu 5 waktu, maka 5 di kali 33 sama dengan 165 kali, berarti dalam satu bulan sama dengan 495 kali, itu berarti dalam dzikir normal yang teratur pun bila dibandingkan dengan apa yang harus dilakukan Juragan Medi atas perintah kyai dari Jampang itu bahkan belum mencapai satu persen pun… Gila! 100.000 dzikir dibagi tiga bulan, mampus… coba kita hitung lagi… 3 bulan itu berarti ada 90 hari, 1 hari 24 jam, 1 jam 60 menit, berarti rata2 permenitnya adalah 100.000 dibagi (90x24x60) berapa coba?! Itu berarti 100.000 : 129.600 berarti kira2 Juragan Medi harus berdzikir dan tidak melakukan apapun setiap dua menit sekali tanpa tidur dan tanpa berhenti selama 3 bulan berturut2!!! Kebayang kalau harus diselesaikan sebulan, tinggal bagi tiga aja, berarti sekitar 45 detik sekali, berturut-turut selama sebulan tanpa henti!!! MAMPUS!!!
Masalahnya untuk apa Juragan Medi mau melakukan hal-hal gila, kalau tidak boleh dibilang konyol karena ini berhubungan dengan dzikir, seperti itu? Apakah ini syarat untuk mencapai sesuatu? Atau Juragan Medi sedang menebus sesuatu kepada kyai dari Jampang itu? Atau karena Juragan Medi ingin bertobat kepada Allah atas suatu dosa besar yang dia lakukan, entah apa?
Jawabannya harus kau lihat di sebulan yang lalu yang menimpa Juragan Medi dan keluarganya.
Mau tahu ceritanya? Atau mau cek sendiri langsung ke sumbernya? Kalo mau yang alternative kedua, nanti kuberikan alamat rumah Juragan Medi sekaligus no. HP-nya. Tapi ingat, Juragan Medi tentu akan sibuk sekali hingga 3 bulan mendatang. Jadi coba aja hubungi istrinya, kau cukup memanggilnya Juragan Istri saja. Tapi jangan tanyakan ke istrinya tentang hal itu, kau tidak akan dapat jawaban yang kau harapkan. Kau hanya harus Tanya pada istrinya dimana alamat kyai dari Jampang itu. Pasti dia berikan kok, kalau istrinya nanya kau mau ada urusan apa dengan kyai dari jampang itu, kau tinggal jawab, kakekmu sakit, tidak ada satu obat pun yang bias menyembuhkannya, dengan bangga Juragan Istri niscaya akan memberikan alamat kyai dari Jampang itu, karena seperti juga Juragan Medi, Juragan Istri sangat percaya akan kesaktian dan kedigjayaan kyai dari Jampang itu, apalagi untuk urusan penyembuhan penyakit fisik maupun mental, urusan jodoh dan uang.
Dari kyai dari jampang itulah kau akan mendapatkan jawaban kenapa Juragan Medi melakukan sesuatu yang mustahil itu meski sebenarnya dzikir itu wajib bagi umat islam yang benar2 kaffah dalam setiap hirupan nafas. Tapi tentu Juragan Medi sangat ekstrim, meski jauh lebih sedikit dibanding jumlah setiap hirupan nafas selama 3 bulan. Kenapa kusebut ekstrim, karena, sedikit bocoran aja ya… Juragan Medi melakukan ini bukan ikhlas karena Allah, tapi untuk sesuatu selain Allah, maksudnya sesuatu yang lain yang tidak ada hubungannya dengan Allah. Apa itu? Yah, lakukanlah prosedur seperti yang kubilang tadi secara berurut…
Nah, selamat mencari… apabila kesulitan, langsung hubungi aku saja, aku sudah tahu kok cerita lengkapnya, tapi biar ceritanya lebih menarik, lebih baik kau dengar langsung dari kyai dari Jampang itu.
Have a nice day!!!
3. Bening
Sebagian dari diri Gadis sebenarnya menghendaki pertemuan itu tidak dilaksanakan. Tapi sebagian lainnya meyakinkan dirinya untuk tetap melaksanakan pertemuan itu. Sudah cukup baginya mendengar sejuta berita pembunuhan. Ini harus diakhiri!
Selalu tiba saatnya untuk pergi. Tapi sebelumnya ada sebuah ritual yang tak bisa ditinggalkannya. Memilih baju. Hari ini panas, warna merah langsung dicoret dari daftar pilihan. Biru sedang tidak in, warna itu akhir-akhir ini membuat auranya menipis. Hijau memang sedang sangat disukai banyak orang tapi Gadis tidak pernah menyukai hijau. Pink bukan warnanya meski namanya sangat Gadis. Ibuku lupa bahwa suatu ketika aku akan menikah dan menjadi nenek-nenek. Aku memang pernah punya rencana suatu saat aku menikah, akan ku ubah namaku menjadi …jadi warna apa yang akan kupakai? Mmmh… oh ya, dia sangat mencintai ungu dan keunguan, tapi aku hanya punya satu baju berwarna ungu dan itupun sudah sangat sempit. Damn!
15 menit waktu sudah terlewati. Setumpuk baju teronggok diatas ranjang. Tiba-tiba gadis menemukan sebuah T-Shirt ditumpukan paling bawah, terhalang oleh long dress hitam yang teronggok tak rapi. T-Shirt itu adalah pemberian seseorang 5 tahun lalu. Sebuah T-Shirt merchandise band SID bergambarkan bayi yang sedang disalib seperti pada sampul album pertama mereka. Ingatannya langsung kembali ke saat itu, saat Gadis sangat mengagumi seseorang.
2. Sebuah pesan pendek:
Dear Niskala…
Ada waktu luang?
Ada yang ingin kubicarakan, penting!
Menyangkut tokoh-tokoh fiksi kita…
1. Sebuah Manuskrip-Novel-Manuskrip berjudul Episode IV
Awal inilah yang membawa Gadis mengalami 4 bagian penanda hidupnya dikemudian hari.
Setelah kau tahu kata kuncinya maka aku akan menguraikan 5 bagian penanda hidup Gadis dengan cara yang normal, Linear.
Sebagai mahasiswa baru belum begitu mengenal suasana kampus, termasuk tempat nongkrong yang enak. Namun pada akhirnya dia menemukan sendiri sebuah kafe yang memungkinkan dirinya untuk nongkrong lama dan enak, tepat disebelah kampus...
Meski aku akan menceritakannya secara linear namun bukan berarti aku akan menceritakannya di Bagian ini. Kau akan menemukan terusannya di Bagian2 lain di novel ini. Dan ingat penandanya, selalu memakai angka 1, 2, hingga 5 dengan font tebal seperti: 1, 2, 3, 4, dan 5. Jika suatu ketika kau menemukan cerita di novel ini dengan awalan angka2 tersebut maka mestilah bahwa cerita tersebut adalah terusan dari fiksi tentang 5 bagian penanda hidup Gadis.
Selamat meneruskan!
THE CHARACTER OF FIKSI-FIKSI BOHLAM DAN BEBERAPANYA PADAM:
ANDRE à LELAKI BIASA DENGAN TEMAN-TEMAN LUAR BIASA
ERVI à MANTAN GITARIS SID DAN MANTAN SELEB YANG BANYAK BIKIN MASALAH DI KAMPUSNYA, PLAYER
GADIS à CEWEK YANG TERJEBAK DALAM LINGKARAN CINTA YANG ANEH
CHARTREUSE à WANITA YANG KEHILANGAN KEKASIHNYA, SELALU DILIPUTI DENDAM PADA SAMANTHA
CYAN à LELAKI YANG BEGITU MENCINTAI NISKALA DAN HEROIN
ILLANA à WANITA YANG SELALU TERSAKITI
INGKAR à LELAKI YANG MENGUAK KEMBALI AGAMA LUPA
JASAD à LELAKI YANG DIHANTUI MASA LALU MARIAM DALAM MIMPI-MIMPI BURUKNYA
MARIAM à HANTU BELANDA DI TOILET YANG JATUH CINTA PADA NISKALA DAN SELALU DIKEJAR OLEH PARA MAKHLUK TAK BERNAMA MUSUH PARA PEMUJA LUPA
SYIV, BRAHM DAN VISHN à TIGA LELAKI YANG HIDUP DI HUTAN DAN MENYUKAI DAGING-DAGING CERDAS
DION à COVER BOY BUNGKUS OBAT SAKIT KEPALA, PEMINUM BERAT, HEDON