My Photo

February 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29  

« Bagian Satu: Suara-suara, Gambar-gambar dan Bidang Miring | Main | Hello God, i'm very OK now!!! »

Menuju Barat lalu Ke Timur

Jum’at, 28 April 2006

Awal dari sebuah perjalanan.

            Sebenarnya aku ingin berangkat dari berbulan-bulan yang lalu. Ada beberapa alasan aku harus meninggalkan kota Bandung. Salah satunya adalah bahwa perjalanan ini adalah sebuah keputusan mutlak yang harus kulalui dalam hidupku. Benar-benar meninggalkan masa lalu untuk sebuah kehidupan yang lebih spiritualistic. Breaktrough!

            Aku ingin menulis lagi. Aku ingin memecahkan segala misteri dunia. Aku ingin bertemu banyak orang. Melalui banyak kota dan desa. Menuliskan perjalanan itu. Aku sudah muak dengan segala tetek bengek intervensi dalam hidup yang masih kurasakan di kota yang akan kutinggalkan ini.

            Aku hanya menunggu sebuah tanda yang besar untuk memulai perjalanan ini. Dan tanda-tanda itu mulai muncul seminggu terakhir. Diawali oleh sebuah pertemuan koinsiden di ccf dengan sepasang lesbian yang tiba-tiba sangat mengagumi segala teoriku tentang banyak hal, meskipun waktu itu aku masih dalam keadaan mabuk. Kupikir mereka adalah rantai karass terakhirku di Bandung. Dan akhirnya saat itu aku memulai untuk berbenah.

            Hari Rabu aku membuat dadu. Ada 6 pilihan yang ahrus kutempuh, meskipun sebenarnya aku sangat menginginkan untuk pergi ke barat dahulu lantas ke timur. Ada beberapa syarat untuk memulai pelemparan dadu itu. Diantaranya harus ada 2 orang yang menyaksikan itu. Dan kupikir saat ini, kedua orang lesbian itulah yang layak untuk menyaksikan ritual ini, entah kenapa. Sayangnya hari Rabu itu mereka tidak dapat menemuiku.

            Hari kamis, ponselku hilang, sebuah pertanda besar bahwa aku harus benar-benar meninggalkan seluruh masa laluku, jaringanku, rantai karassku yang selama bertahun-tahun kubangun. Ini benar-benar sebuah tanda yang besar. Lalu kuhubungi salah satu dari pasangan lesbi itu. Dan anehnya aku masih mengingat no telp dia, namanya Ria. Untunglah dia bisa menemuiku meskipun sebentar. Dia ngajak ketemu denganku di Ciwalk. Sayang, pasangannya, bernama Dey, tidak bisa datang. Tadi sebelum aku menemui Ria, aku membuat sebuah dadu lagi dari tanah liat seukuran 1x1 cm.

            Jam 4 sore kutemui Ria. Dia bilang dia hanya bisa bertemu aku sebentar. Kubilang OK. Lalu kumulai ritual itu. Aku menuliskan 6 pilihan di sebuah kertas:

-         Tetap di Bandung

-         Pergi ke barat lalu ke timur

-         Pergi ke timur

-         Pergi ke Bali

-         Kerja di Jakarta

-         Meditasi di sebuah tempat yang jauh

Lalu aku memberikan kertas itu padanya. Kubilang kamu yang harus menomori pilihan-pilihan ini. Lalu lipat. Lantas aku pergi ke toilet sebab aku tidak boleh dulu melihat urutan nomornya.

Selepas dari toilet, kertas itu sudah terlepas. Lalu keuberikan padanya kedua dadu yang sudah kubuat dari tanah liat tadi. Pilih salah satu untuk kulempar, kataku. Lalu dia memberikan salahsatunya. Dan kubilang, satunya lagi untuk dia.

            Lalu aku membaca Bismillah, dan kulempar dadu itu. Keluar nomor 2.

            Aku membuka kertas tadi. Urutannya seperti ini:

-         Tetap di Bandung 3

-         Pergi ke barat lalu ke timur 2

-         Pergi ke timur 6

-         Pergi ke Bali 4

-         Kerja di Jakarta 5

-         Meditasi di sebuah tempat yang jauh 1

Sesuai harapanku jauh sebelum ini aku memang menginginkan untuk pergi dulu ke Barat lantas ke Timur. Aku mengucapkan terimakasih padanya. Lalu memeluknya, terucap beberapa kata perpisahan. Lalu aku pergi.

Hari ini, sore hari aku mengepak barang, pamit pada beberapa teman di Stuba, kampus unisba, karena beberapa bulan terakhir aku tinggal disana bersama mereka.

Aku berangkat menuju CCF, menuliskan ini sambil minum beer, aku mungkin akan benar-benar meniggalkan kota Bandung pada hari Minggu, sebab besoka aku harus berpamitan pada pacarku, dan ingin bertemu dulu dengan Dini, mantan pacarku, orang yang paling kusayang.

            Sementara menunggu besok, aku melakukan ritual terakhirku di Café Terminus CCF, menulis, beer dan lucky strike.

Bandung; Sabtu 28 April 2006

Terbangun, menggeliat, mengumpulkan nyawa…

Damn! Aku masih di Bandung. Di Sabuga, kantornya Bandung and Beyond, sebuah majalah baru yang menampilkan sisi-sisi lain dari budaya dan entertainment khususnya Bandung, tapi umumnya Indonesia. Memadukan wilayah memori Bandung tempo dulu dengan gaya hidup kekinian. Nostalgia dan Keputus-asaan. Seperti aku sekarang? Tidak…aku pergi karena sebuah alasan. Alasan-alasan featurik seperti majalah ini didirikan. Bandung and Beyond; Sebuah majalah yang mengedepankan feature sebagai alat ampuhnya. Ervin and Beyond; Tak ada seorangpun yang tahu kenapa aku harus dan ingin pergi.

Tapi benarkah aku akan pergi hari ini. Pergi dari Bandung. Untuk waktu yang mungkin sangat lama. Gila, aku menghabiskan 10 tahun umurku di kota ini, kota indah ini, kota penuh kenangan, penuh intrik, penuh teman, pura2 teman hingga teman yang selalu bingung harus berposisi di mana saat aku adalah tokoh kontradiktif, atau bahkan ada yang sengaja memusuhi, yang terang-terangan atau yang sembunyi sembunyi, ini yang bahaya, mereka menjelekkanku di belakang, tapi biasanya sampai lagi ke telingaku, biarlah, aku sudah cukup terbiasa. Di kota ini ada pula sakit bahkan perih, bahagia bahkan ekstasi, ekstasi spiritual, ekstasi alkohol dan ganja, hingga wilayah biasa-biasa seperti bosan dan tak ada apa-apa, atau banyak sekali orgasme, banyak sekali sperma yang berakhir di tisyu, selokan belakang rumah atau yang nyangkut di saringan wc, diatas perut beberapa wanita bahkan beberapa didalam rahimnya, untunglah tak pernah ada yang jadi, kecuali beberapa yang jadi kecoa di selokan sanitasi toilet beberapa kamar mandi yang pernah kupakai coli, atau aku tidak tahu katanya ada juga yang jadi bayi di salah satu cewek yang bahkan namanyapun aku lupa, tapi yang jelas ada di sekitar dua atau tiga wanita yang kutahu jadi tapi kemudian keguguran, dan aku menangis sangat sedih saat itu. Di kota ini ada kesenian, kenabian, penulisan, musik, spirit, tidak fokus, ini juga yang sering dikomplen orang padaku, penk, fokus penk…penk loe tuh Cuma gede omong doang, gak ada realisasi, yah ada teman-teman dengan berbagai dukungan, cemoohan, ejekan, ledekan, hinaan, apapun, banyak... hal-hal kayak gitu harus kutelan bulat-bulat. Tapi ada juga yang kubuatkan apologinya, ada yang kusanggah, ada yang tidak kupedulikan dan ya itu, kutelan bulat-bulat, sebab susah sekali mengunyah kritikan dari orang-orang yang sangat tidak tahu bagaimana membuat kritik yang baik, tapi aku paling suka kritik pedas soalnya mirip dengan kripik pedas. Ini memang harus kukunyah dulu, kalau gak pasti aku batuk atau paling untung keselek. Kritik pedas kayak gini biasanya muncul dari orang-orang tua atau yang sok tua, masih bisa kuterima. Paling males kalau kritik kayak gini dateng dari orang yang sok cerdas, mendingan sok tahu deh, lebih manusiawi daripada sok cerdas. Kalau yang sok tahu ini paling juga kuketawain, yang sok cerdas, bingung harus kuapain, karena orang-orang kayak gini memang selalu merasa paling cerdas, paling tahu, paling bisa, nah ini bahaya, boy! Biasanya berakhir jadi musuhan, dia yang gak nanya atau aku yang males nanya. Entar deh, kisah tentang hidupku sebelum perjalanan ini kubuatkan dalam satu buku khusus, The Prekuel of The Journey, judul yang biasa...males ah, gimana entar aja.

Aku merogoh saku, Cuma 10ribu tersisa, bener penk mau berangkat? Ini bukan keraguan, aku pasti berangkat hari ini, aku yakin bahwa semesta sudah mulai bekerja untukku sejak kemarin untuk mengantarkan keajaiban-keajaibannya lewat kebetulan-kebetulan yang menyenangkan.

Cuci muka, kuangkat ranselku, kugendong di belakang, hahaha...mirip banget dengan gambaran para novelis yang menceritakan tentang backpacker, aku? Backpacker? C’mon, hal ini memang sudah kuimpikan sejak lama, lama sekali, tapi memang sekarang saat yang tepat, meski semingguan lagi aku 27, umur kematian, umur mati muda yang paling pas...tapi, buatku mungkin bukan mati yang itu, tidak seperti Kurt Cobain, Soe Hok Gie, Chairil Anwar, Jim Morrison dan banyak tokoh lainnya yang mati di seputaran 27, aku bukan itu kayaknya, kepergian ke entah mana ini secara simbolik ataupun naluriah adalah sebuah kematian, sebuah hijrah, breaktrough, apocalyptic moment. Kalau dulu aku memang ingin benar-benar mati, tapi kupikir ada banyak juga yang melakukannya hanya simbolik, misalnya Musa, Buddha atau Muhammad. Mereka hijrah, menempuh sesuatu yang baru, dan kebanyakan tanpa tahu akan kemana, hanya semesta dan penciptanya yang benar-benar dipercaya akan memberikan arah.

Aku juga harus benar-benar menyerahkan ini semua pada semsesta, dengan kata lain Tuhan dan semesta sebagai alatnya. Aku harus benar-benar yakin dalam hal ini. Modalku hanya itu ditambah sedikit nekad. Maka jadilah sebuah perjalanan.

Hei, gak kerasa aku dah ninggalin sabuga, nyusurin jalan Dayang Sumbi pagi yang lebat pohon, sedikit dingin, lapar...di depan ada Circle-K, ah...makan dulu ah, ini cukup untuk roti, susu dus dan sisanya untuk nelpon Dini dan ongkos menuju rumah kakakku, mengambil beberapa barang yang penting yang kusimpan di gudangnya dulu saat pindahan kost-an.

Sambil ngunyah dan nyedot di depan CK. Aku liat ada Manda, temen kampusku yang seksi di seberang jalan dago. Aku samperin...Manda! manda menoleh, hai penk, mau kemana lo? Cabut dari Bandung Man... Terus kuliah lo gimana? Gw tinggal, udah gak penting, ilmunya dah gw dapet kok, hehe... lo emang gila.

Loe mau kemana Man? Ke bank, nabungin duit euy, takut keburu abis, tapi harus disini, hari minggu kan tutup, jadi gw ke BCA Customer...hehe, Man, beliin rokok dong, duit gw kempis banget euy! Emang loe mau kemana sih sebenarnya Penk? Gak tahu Man, pokonya ninggalin Bandung aja, dan untuk waktu lama, mungkin ampe umur gw 40-an lah. Gw pengen keliling dunia, Man. Loe sinting ya, mau keliling dunia, buat beli rokok aja loe gak ada. Ya, justru dengan metode ini man gw keliling dunianya, saat ada orang-orang tajir kayak loe, gw gak segan minta rokok misalnya. Ya udah deh, hitung-hitung gw sponsorin perjalanan loe, haha...rokok loe apa sih? Wah gw gak bakalan ketemu loe lagi dong penk dalam waktu lama, ilang deh satu orang gila di kampus,haha... Lucky strike, iya man, kecuali kita papasan di jalan, misalnya saat lo lagi liburan dimana gitu, rencananya kan gw pengen keliling Indonesia dulu, malu ama Bule euy, mereka kok lebih tahu Indonesia, ketimbang gw yang Orang Indonesia, bayangin Man, ke Bali aja gw belum pernah...

Dengan berakhir di cipika-cipiki aku ninggalin Manda yang berjalan ke arah Bank, dan aku menggondol sebungkus Lucky Srike dari CK hasil malakin Manda tadi, haha...punya rokok, sign pertama nih. Lucky Strike. Beruntungkah aku hari ini?

Di simpang Dago, aku telpon Dini....

halo, dini, jadi bisa ketemuan hari ini?

Bisa sih, tapi aku gak bisa sampe sore banget.

Jadi jam berapa ketemuannya?

Dari siang aja, sekitar jam dua belasan, gimana, aku jemput dimana?

Aku ke rumah kamu aja, sekalian aku mau ke rumah AA dulu soalnya, ngambil buku dan beberapa barang, jadi sekalian lewat.

Oh, gitu, ya udah...aku mandi dulu deh kalo gitu.

Emang ini dah jam berapa gitu?

setengah sebelas, sekalian aku juga mau beres-beres dulu

ok, deh kalo gitu, ampe ketemu ya...

ya...

angkot-angkot...sampe antapani, naek ojeg, di rumah kakaku aku gak bilaga apa-apa tentang kepergian, aku malah bilang mau balik ke cianjur, pulang ketemu mama. Aku ambilin barang-barang penting untuk nulis. Soalnya kan laptop gak kubawa, kukasih adikku. Terus pamit lagi...

ojeg-ojeg, angkot-angkot, depan rumah dini, mijit bel, dia keluar baru selesai mandi, masih pake daster, cipika-cipiki, “hey”nya yang khas, selalu kuingat...dia emang seksi banget kalo lagi pake daster...damn gw konak...bukan Cuma seksi sih, libidinal...perutnya gendut...lucu kan...

tungguin ya vin aku ganti baju dulu...

ok...dah lama banget aku gak duduk di kursi tamu ini, melihat straight ke ruang keluarga tempat nyokap ama bokap nya dini nonton TV, hampir 8 bulan yang lalu...sejak kami putus...sakit Man, sakit banget...hal tersakit yang pernah aku alami...soalnya mimpi kita berdua dah tinggi banget...tiba2 after dua tahun dia ngajak putus tanpa alasan yang jelas, maksudku kita sedang tidak ada masalah, dialah yang sedang bermasalah, lalu ditimpain kesakitannya ke aku, gak fair kan??? Itulah kenapa sampe saat ini aku belum juga bisa nerima hal itu, meski kami sudah kembali berteman dekat...wah tapi ceritanya aku dan dia tuh panjang banget...mestinya jadi satu novel yang terpisah juga, hehe...dan mungkin salah satu pemantik perjalananku juga karena itu, karena aku dah gak ada yang harus dipertahanin lagi di bandung, tadinya kan aku berat karena ada dia, sekarang dia gak ada lagi di hidupku, aku jadi agak ringan buat ninggalin Bandung, ya, seserius itu aku akan ninggalin Bandung untuk waktu yang lama Banget, yang tadi kubilang, mungkin sampe umur 40, setelah keliling dunia, bener bener keliling dunia, dan aku yakin aku bisa. BISA dengan TING besar...YAKIN dengan LAFADZ yang besar juga...

Selesai berdandan, kami keluar, pamit sama ortu dini, masuk ke mobil, memutar kunci, mobil berjalan. Kita mau kemana? Tanya Dini. Kamu dah makan, Vin?

Udah sih tadi pagi, kita ke ini aja, mmh...cabe rawit yang waktu itu kita nogkrng tea.

Oh ya, ya udah kesana aja, kan kalo laper juga tinggal mesen.

Cabe Rawit, tempat makan yang sebenarnya udah lama ada di seberang kampus unpar dengan makanan murah terjangkau mahasiswa dan cukup enak itu sekarang buka cabang di jalan apa ya aku lup, pokoknya sebelah potluck deh...ngambil tempat duduk yang gak terlalu ramai, pesen makanan...dimulailah obrolan itu, obrolan yang seharusnya terjadi setahun yang lalu, kami berdua merasa saat sekarang adalah tepat, karena emosi masing-masing dah mereda ditambah kepergian aku yang lama yang mungkin gak bakalan ada moment seperti ini lagi ke depannya. Banyak sekali hal yang ternyata belum selesai anatara aku dan dia. Lama sekali kita berbincang, tentang masa lalu, ada tawa, ada rindu...dan satu hal baru yang kudapat dari percakapan itu, segimanapun Dini terpengaruh teman-temannya tentang perasaannya padaku, ternyata dia tetap menyayangiku, sangat. Kalau meminjam istilah dia, cinta dengan keleluasaan, bukan cinta sexual, tapi cinta yang katanya lebih murni dari itu. Jadi dah gak mau tidur lagi ama gw ya??haha...

Gak tahu Vin, sepertinya nggak, udah beda banget ama dulu...

Masa sih din loe gak pernah horny lagi ama gw? Dia terdiam, bingung mau jawab apa, meski jelas terpasang disana wajah enggan tapi harus butuh alasan agar tidak menyakiti hatiku... ya udah gak usah dipikirin, gw bercanda kok, hehe... dia tersenyum lagi.

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .